Museum Trinil adalah museum khusus yang mengoleksi beragam jenis fosil manusia purba dan hewan purba.[2] Perintisan museum dilakukan oleh Wirodiharjo sejak 1967.[3]
Pendirian Museum Trinil berhasil dicanangkan pada 1980 dan 1981 oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur.[4] Pada 20 November 1991, Museum Trinil diresmikan oleh Soelarso selaku Gubernur Jawa Timur saat itu.[5] Pemilik museum adalah pemerintah Provinsi Jawa Timur, sedangkan pengelolaannya diserahkan kepada Unit Pelakasana Teknis Museum Trinil Ngawi.
Koleksi museum berasal dari situs Trinil. Situs tersebut diteliti oleh seorang dokter militer Hindia Belanda bernama Eugene Dubois. Ia melakukan penelitian selama tahun 1891-1893. Penemuannya ialah fosil manusia purba Pithecanthropus Erectus.
Museum Trinil mengoleksi fosil-fosil yang kemudian ditemukan satu per satu. Beberapa koleksinya yaitu tulang panggul gajah jenis Stegodon Trigonochepslus dan fosil tulang pengumpil gajah.
Museum Trinil beralamat di Dukuh Pilang, Desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar, Ngawi,[6] memiliki luas mencapai 24.010 m² dan kelilingi oleh aliran Sungai Bengawan Solo.[7]